Tips Sukses VBAC / Persalinan Pervaginam Setelah Caesar

Alhamdulillah telah lahir anak kami yang kedua berjenis kelamin perempuan pada tanggal 27 April 2022 kemarin. Qiana, sesuai namanya, selama kehamilan, lahir, dan insyaAllah sampai akhir khayatnya dipenuhi dengan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin...

Setiap anak memiliki cerita dan karakter masing-masing. Begitu pula jalan lahirnya, hihi. Kalau kakaknya 3 tahun yang lalu memilih lahir melalui jendela a.k.a operasi caesar (sectionary caesar) 😆 Nah si adeknya memilih jalan lahir melalui pintu pervaginam. Bunda Q disklaimer dulu ya, kalau semua ibu itu hebat apa pun proses kelahiran yang ia jalani. Tentunya semua penuh perjuangan di setiap detiknya sesuai dengan qodrat Allah SWT. 

Langsung ke cerita VBAC-nya yah Bun. Mungkin Bunda-Bunda ada yang belum tau apa ya itu VBAC? VBAC adalah singkatan dari "Vaginal Birth After Sectionary" atau bahasa Indonesianya persalinan normal (pervaginam) setelah tindakan SC di persalinan sebelumnya.

Pada kelahiran anak pertamaku melalui SC karena ada uzur medis yaitu sudah melebihi HPL, terdapat lilitan, dan kesejahteraan bayi di dalam sudah tidak baik sehingga harus segera dilakukan tindakan SC tanpa ada kontraksi sebelumnya. Jadi aku belum pernah ngrasain nih Bun rasanya kontraksi asli seperti apa hingga baru terkaget-kaget begitu kuasa Allah pada saat hamil anak kedua 😆 MaasyaAllah.

Story of My Amazing VBAC
Pada usia sekitar 34-37 minggu pernah merasakan kontraksi palsu yang sering aku kira itu kontraksi asli. Jadi, memang sebelum hari H kelahiran sudah sering merasakan kontraksi palsu. Pada saat kehamilan mulai memasuki usia 38 minggu semakin sering tuh Bun aku tanamkan di pikiranku sendiri dan adek bayi kalau adek akan lahir tidak lebih dari HPL, bahkan aku lihat tanggalan aku tandai sekitar 25-29 April, dengan alasan biar pas lebaran idul fitri bisa bareng sama adek (kebetulan idul fitri tahun ini di tanggal 2 Mei). Penginku kalau bisa di tanggal 27 biar tanggalnya sama kayak aku, bundanya. Karena kakak Qai tanggal lahirnya sudah sama dengan ayahnya hihihi lucu ya alesannya. 🤣

Fyi, pada saat usia kehamilan ku 36 minggu sudah sempat cek ke dokter kandungan berapa SBR (Segmen Bawah Rahim) atau ketebalan rahim yang minimal katanya adalah 0,2 sedangkan pada saat dicek aku 0,5 jadi di acc dokter untuk VBAC. 

Nah, tepat pada tanggal 26 April pagi, aku sudah merasakan kontraksi yang cukup intens tapi belum begitu kuat. Bahkan di hari itu aku masih puasa dan masuk kerja loh ke sekolah 😆 karena memang ambil cuti mepet, sesuai HPL 1 Mei. Sempat bilang ke mamah dan suamiku kalau kayaknya lahir hari ini atau besok. 

Di sekolah, aku masih aktivitas seperti biasa dan bahkan membantu panitia pesantren kilat. Sekitar jam 10 atau 11 semakin intens lagi tuh kontraksinya dengan memantau pakai aplikasi 'contraction' kemudian tanya juga ke bidan kesayanganku bidan maryam apakah ini tanda-tanda akan segera persalinan. Kata bidan maryam kalau jarak antar kontraksi sudah 4 atau 5 menit sekali dengan waktu kontraksi 50-60 detik selama 1 jam bahkan lebih, insyaAllah sudah mendekati persalinan. Pukul 14.00 rasanya sudah mulai agak sakit, sehingga aku memutuskan untuk pulang dan dijemput. Tak lupa meminta doa dari teman-teman guru yang lain untuk didoakan supaya lahir sehat, selamat, lancar, dan mudah.

Setelah sampai rumah, sekitar ba'da ashar mamahku (karena suamiku saat itu belum pulang dari kantor) mengantarkan ke bidan terdekat untuk mengecek pembukaan. Sampai di sana ternyata sudah bukaan 1 dan diminta pulang. Sesampainya di rumah ternyata sudah keluar flek merah. FYI, pengetahuan lagi dari bidan maryam kalau flek darahnya merah biasanya persalinannya cepat tidak memakan waktu lebih dari 24 jam. Tapi, kalau fleknya berwarna coklat biasanya persalinan akan dimulai masih lebih dari 1 hari atau bahkan lebih. Berbekal pengetahuan itu dan mulai kesakitan, aku langsung dibawa mamah dan suamiku ke RS terdekat tempat bersalin. Di sana saat dicek ternyata masih bukaan 1. What??? Cukup melongo juga 😳 perasaan sakitnya tambah kok masih bukaan 1. Di titik inilah benar-benar baru merasakan 'kata orang' perjuangan hidup dan mati seorang ibu saat melahirkan anaknya. Betapa detik demi detik merasakan kontraksi yang luarrrr biasa MasyaAllah nikmatnya.

Di pembukaan 1-4 masih bisalah aku atur napas ala-ala bidan maryam dan tutorial youtube 😅 itu pun menurutku cukup lama karena bukaan 4 baru di mulai tengah malam. Nahhhh di bukaan 5 seterusnya ini benar-benar pelajaran napas sudah ambyarrr 🤣 apalagi yang menemani suamiku, yang ikut panik kalau aku kesakitan hihi padahal udah belajar bareng nih cara nafas gimana tapi tetep aja ambyar semua wkwk.

Bidan RS pada saat itu menurutku tidak terlalu membimbing ya maka dari itu untuk Bunda-Bunda semua jadi pelajaran untuk memilih bidan atau dokter atau doula yang memang sreg di hati karena pada saat kita melalui nikmat kontraksi itu memang butuh sekali pendamping hidup, eh pendamping persalinan yang tepat, hihi.

Menurutku mulai bukaan 7 inilah yang mulai 'nglarani' kata wong Jowo. Mulai menyakitkan karena sudah mulai ada sensasi mengejan tetapi belum boleh. Di pikiranku saat itu cuma ada Allah, Allah, Allah, istighfar, dzikir, baca doa Nabi Yunus, dan pokoknya hanya pasrah sama Allah. Kata bidan masih bukaan 8, belum lengkap jadi diminta jangan mengejan. Sampai bingung harus gimana karena refleks mengejan sendiri. Geg kepiee ini?  Tiba-tiba mengeran, dengan suara eeeeeeek sendiri.

Setelah subuh, mulai nangis dan pyukkk ketuban pun pecah. Di saat itu pula aku berpikir, oooh ini ya ketuban yang sering aku tanyakan kayak gimana rasa dan bentuknya. Karena sudah tidak kuat menahan sensasi mengejan yang kadang memang lepas sendiri, sudah tidak kuat menahan akhirnya sekitar 05.30 aku mengejan dan ada yang keluar (ternyata ini pup 🤣) 

Langsung semua bidan mempersiapkan peralatan persalinan. Dan mulai ada aba-aba untuk mengambil napas saat kontraksi dan mengejan saat ada sensasi mengejan. Pada saat itu sempat teringat ilmu dari bidan maryam dan youtube gimana cara agar lancar dan tidak sobek pereniumnya. Tapi apalah daya karena sempat kepikiran gimana ya keadaan bayiku kalau gak segera keluar. Jadi, apa pun itu cuma asal mengejan saja yang akhirnya bonus diepis pereniumnya hingga banyak jahitan 😅 Tepat pukul 06.04 keluarlah adek bayi cantik ditidurkan di dadaku. MasyaAllah nikmatnyaa.... 

Foto pertama Qia bersama uti

Lagi-lagi di kesempatan itu aku putar kembali pertanyaanku pada saat hamil "Sakit gak digunting pereniumnya?"; "Sakit gak saat dijahit?" Ternyata..... jawabannya adalah TIDAK BEGITU SAKIT GAESSS DIBANDINGKAN KONTRAKSINYA YANG BERKALI-KALI LIPAT 😄
Padahal sebelumnya sempat membantah jawaban teman-teman yang katanya gak sakit kok. Jawabanku, "Masak sih gak sakit?" Wkwkwk. Ternyata itu memang tidak ada apa-apanya, karena efek kita sudah merasakan kontraksi yang ibaratnya bernilai 100. Nah digunting atau dijahit hanya 10. Jadi ya semacam mak kluthik saja. Apalagi sudah lihat adek bayi yang sehat. MasyaAllahhhh...

Jadi, beberapa tips VBAC yang bisa aku bagikan ke Bunda semua adalah, 
1. Mindset bahwa AKU BISA melahirkan pervaginam karena Allah menciptakan tubuh manusia yang luar biasa sempurna sesuai kodratnya.

2. Ajak adek bayi bekerjasama dan berkomunikasi dari dalam perut. Karena memang terbukti bahwa janin sudah dapat merespon perkataan ibunya dari dalam kandungan. Pernah pada saat itu posisi adek masih sungsang, aku ikhtiar dan ajak ngobrol adek. MasyaAllah di kontrol berikutnya posisinya sudah bagus, bahkan sudah masuk panggul. Aku bahkan memberikan pilihan adek di mana dia lahir dan aku sampaikan, "Adek lahir sebelum lebaran ya, Dek"; "Adek lahir kalau bisa pagi ya (karena menurutku kalau pagi lebih banyak yang akan bantu setelah persalinan tidak dalam keadaan ngantuk atau capek hehe). Ternyata benar loh, adek Qia bahkan lahir sesuai keinginan bundanya di tanggal yang sama, yaitu 27 dan di pagi hari. Lagi-lagi dibuat takjub dengan kuasa Allah SWT. 

3. Cari dan ikuti komunitas VBAC. Aku juga sering baca-baca artikel tentang VBAC di youtube, internet, dan instagram. Selain itu karena aku yoga di bidan maryam (salah satu bidan terkenal di Kota Solo karena pro VBAC dan hypnobirthing) aku sering sharing dengan beliau dan teman-teman yoga lain seperjuangan.

4. Bekali diri dan pak suami dengan ilmu dan pengetahuan tentang VBAC dan persalinan karena dengan begitu kita lebih siap dan yakin dalam menghadapinya. Beda saat kehamilan pertamaku yang sepertinya aku kurang waktu untuk belajar tentang persalinan, di kehamilan kedua aku merasa lebih siap. 

5. Cari provider yang pro VBAC. Niatku sebenarnya ingin bersalin di bidan maryam, namun qodarullah pada saat itu sedang ada perpanjangan izin jadi tidak melayani persalinan. Kemudian atas saran bidan maryam juga, disarankan untuk memilih dr. Ronny, S.POG yang praktik di RS Kustati dan Tri Harsi. Alhamdulillah dr. Ronny sangat positif dan menguatkan untuk bisa VBAC. Untuk USG nya aku terkadang ke dr. Antonius Darmawan, S.POG di Klinik Budi Sehat. Ini juga salah satu dokter kesayangan umat hihi karena sabar, informatif banget, detail saat menjelaskan bahkan sampai ke organ-organ adek bayi, dan alat USG nya itu loh menurutku keren dan jelas gambarnya. 

6. Selalu ikhtiar dan berdayakan diri. Jangan malas bergerak ya Bun. Dari usia kehamilan 5 bulan aku rutin ikut yoga di bidan maryam. Yoga ini memiliki manfaat untuk berlatih pernapasan sejak dini. Karena pada saat bersalin napas adalah 'koentji'. Kalau jalan-jalan? Aku termasuk jaraaang banget ya Bun hihi, paling cuma jalan di depan rumah aja. Kalau Bunda ada yang tidak sempat ikut yoga, bisa kok nonton di youtube.

7. Bermain birthing ball atau gymball. Dari usia kehamilan awal aku sudah mulai rutin mentul-mentul di gymbal sambil mangku kakak Qai 😆 Ini cukup efektif untuk membuat adek bayi turun ke panggul dan posisi yang baik untuk lahir agar nanti pada saat persalinan tidak begitu memakan waktu yang lama hingga berhari-hari.

8. Jalan cepat. Aku praktikan ini di akhir-akhir usia kehamilan dan hanya di teras rumah karena saking magernya kalau jalan-jalan. Kecuali jalan-jalan di mall yaaa 🤣

9. Makan nanas/kurma di usia kehamilan lebih dari 37 minggu. Karena pada saat itu bulan puasa dan kebanyakan tersedia kurma jadi aku rutinnya konsumsi kurma. 

10. HB atau hubungan suami istri. Kalau ini memang ngaruh banget ya karena zat prostaglandin yang ada pada sperma ini katanya ampuh untuk menipiskan jalan lahir.

11. Jangan lupa cek ke dokter tentang SBR atau ketebalan rahim yang sudah aku jelaskan di atas karena untuk kebaikan Bunda dan adek bayi tentunya perlu dipersiapkan semuanya juga secara medis.

12. Aku sering baca dzikir pagi petang (atau bisa al-fatihah, 3 qul, dan ayat kursi), asmaul husna, doa nabi yunus, dan istighfar setiap hari yang menurutku ini semakin memberi kekuatan dan memang benar pada saat membaca doa nabi yunus aku sering merasakan kontraksi walaupun palsu. Yang artinya adek bayi mulai mencari jalan lahirnya. Seperti kisah Nabi Yunus yang memohon pertolongan Allah untuk keluar dari perut ikan paus.

13. Terakhir adalaaaaah.... Pasrah dan tawakal kepada Allah SWT. Jangan terlalu memaksakan diri untuk VBAC. Lagi-lagi aku sampaikan bahwa semua ibu itu hebat apapun proses kelahirannya. Jadi kalau dari dokter menyarankan tidak VBAC atau di akhir-akhir perjuangan persalinan kita tidak memungkinkan pervaginam. Kita ikhlaskan dan tentu semua tidak ada yang sia-sia. Yang terpenting adalah Bunda dan adek bayi dalam keadaan sehat selamat.

Begituuuu ceritanya Bunda-Bundaaa. Apa nih persiapan Bunda untuk VBAC? Bisa sharing di kolom komentar ya Bun. 

Komentar